Pembangunan Infrastruktur sebagai Penguat Bangsa

    Pembangunan infrastruktur yang tidak merata mengakibatkan terjadinya kesenjangan sosial sehingga muncul kecemburuan dari kelas bawah. Karena pembangunan yang tidak merata, kelangsungan berbagai sektor di daerah tersebut tidak bisa berjalan dengan lancar. Hal tersebut tentunya cukup mengancam kesatuan bangsa dengan munculnya gerakan separatisme karena kekecewaan atas pembangunan yang tidak merata. 

Gambar diambil dari ekonomi.bisnis.com
     
    Pemerintahan periode ini identik dengan kebijakannya yang banyak membangun infastruktur. Kebijakan ini cukup relevan dengan kondisi infrastruktur di Indonesia yang belum merata walaupun banyak juga kalangan yang tidak menyetujui kebijakan ini. Sebab, mereka menilai bahwa masih ada sektor lain yang lebih membutuhkan pembenahan, terutama ekonomi. Padahal, dengan terbangunnya infrastruktur yang baik, roda perekonomian pun akan berjalan dengan lebih baik lagi.

    Pemerintah berfokus pada pembenahan kesenjangan secara pembangunan yang nantinya akan berdampak pula ada perekonomian. Pembangunan daerah-daerah tertinggal dan pinggiran menjadi fokus utama, terutama daerah Indonesia bagian timur. Pembangunan ini juga ditujukan sebagai penghubung antara pusat dengan daerah sehingga terjadi konektivitas dan integrasi antara pusat dengan daerah.

Gambar diambil dari otosia.com


Dampak Sosial

    Kebijakan pembangunan ini tidak hanya berdampak pada ketahanan pangan dan perekonomian, tetapi juga pada sosial. Dengan pembangunan ini, menunjukkan bahwa pemerintah peduli dengan kesejahteraan daerah-daerah lain di Indonesia, terutama daerah yang masih minim pembangunan. Kita ketahui sendiri bahwa pembangunan pada era sebelumnya lebih fokus di daerah tertentu saja sehingga muncul gerakan-gerakan separatisme yang mengancam keutuhan bangsa. Hal tersebut disesbabkan oleh kecemburuan karena mereka merasa daerah yang mereka tempati tidak diperhatikan. Pembangunan yang tidak merata tersebut mengakibatkan daerah-daerah yang “dianaktirikan” tersebut menjadi tertinggal di berbagai macam sektor.

    Dengan adanya pembangunan insfrastruktur yang dilakukan pada era ini diharapkan menjadi salah satu faktor pemersatu dan penguat bangsa karena kesenjangan yang ada terminimalisasi. Masyarakat menjadi merasa diperhatikan karena kebutuhan penunjang yang selama ini mereka butuhkan untuk mempermudah kegiatan mereka akhirnya hadir. Dengan begitu, diharapkan gerakan-gerakan separatisme yang disebabkan oleh kecemburuan dan kesenjangan bisa terminimalisasi.

Pemberontakan PRRI-Permesta. Gambar diambil dari tirto.id


Faktor pemersatu dan penguat kesatuan bangsa tidak hanya dengan memperkuat jiwa nasionalisme ataupun pertahanan dalam negeri, tetapi juga dengan perlakuan pemangku kekuasaan kepada rakyatnya. Pemangku kekuasaan sudah sepatutnya memberikan fasilitas yang sama kepada rakyatnya karena rakyatlah yang membuat para pemangku kekuasaan tersebut ada di posisi mereka sekarang. Dengan pemberian fasilitas yang adil dan kesejahteraan yang merata, rakyat pun akan senang untuk tinggal di negeri ini dan membela negeri ini. Selain itu, rakyat pun tidak akan merasa kecewa yang pada ujungnya mereka menyesal untuk bergabung dengan Indonesia. 


 Kepustakaan



Mochdar Soleman, & Noer, M. (2014). NAWACITA SEBAGAI STRATEGI KHUSUS JOKOWI PERIODE OKTOBER 2014-20 OKTOBER 2015. POLITIK13(1). http://journal.unas.ac.id/politik/article/view/236/137


                        

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan untuk Membela Para Introvert

Menilik Stereotip pada K-popers dan Penyuka Jejepangan: Bagaimana Bisa Terjadi?

Sekelebat Pikiran: Mempertanyakan Posisionalitas Ilmu Pengetahuan bagi Masyarakat