Sekelebat Pikiran: Mempertanyakan Posisionalitas Ilmu Pengetahuan bagi Masyarakat
Pernahkah kalian berpikir, ilmu pengetahuan diciptakan sebenarnya untuk tujuan apa? Kemudian, ketika ilmu pengetahuan tersebut sudah terbentuk dengan kokoh, bagaimana ilmu pengetahuan tersebut digunakan atau dimanfaatkan oleh orang-orang yang paham ilmu tersebut. Tulisan ini mungkin dapat memicu perdebatan dan kritik dari rekan sejawat, junior, senior, hingga dosen-dosen saya. Kalau ada ketidaksetujuan silakan karena saya pun tidak meng-klaim apa yang saya tulis ini benar, tetapi hanya pemikiran saya saja. Tulisan ini juga menjadi refleksi dan otokritik bagi diri saya sendiri pula. Kemudian, karena saya berlatar pendidikan psikologi, banyak contoh dalam tulisan ini berasal dari ilmu psikologi.
![]() |
| Gambar dibuat oleh Gemini AI |
Jika kita berefleksi pada siapa yang memiliki akses pengetahuan, kita mungkin akan berpikir bahwa tidak semua orang berhak dan dianggap memiliki kuasa untuk mendiskusikan suatu topik tentang ilmu pengetahuan karena dianggap tidak memiliki kredibilitas. Misalnya, ketika para mahasiswa atau akademisi berdebat soal kelas sosial, mereka mungkin tidak akan begitu mempedulikan opini dari orang non-akademisi. Jika pun didengarkan, hanya sebagai informasi tambahan atau pengguguran kewajiban terkait penghargaan atas hak berbicara dan kebebasan berpendapat. Sering kali, akademisi merumuskan teori atau menghasilan temuan riset yang kemudian di-klaim dapat digeneralisasi dengan hanya mengkaji kelompok kecil dari masyarakat, itu pun di salah satu kelompok (agama, status ekonomi, pendidikan, dll.) kecil saja.
Penelitian di ilmu psikologi misalnya, sering kali ditemukan bahwa sampel dari penelitian adalah dari golongan mahasiswa dan orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Hal ini biasanya berkaitan dengan aksesibilitas. Bukannya tidak penting atau tidak bermakna, tetapi hal tersebut saya pikir sudah sangat menumpuk jumlahnya, baik di tingkat skripsi, tesis, hingga penelitian di jurnal internasional. Setelah itu, kesimpulan yang ditulis seolah-olah hasil temuan dapat relevan dengan semua kelompok masyarakat. Padahal, menuliskan "x dapat berpengaruh terhadap y bagi kelompok mahasiswa Fakultas Z di Universitas W" bukanlah hal yang rendahan. Kita perlu paham bahwa manusia sangatlah beragam. Keberagaman itu pula yang membuat temuan riset dalam ilmu sosial menurut saya tidak dapat dengan mudah digeneralisasi. Misalnya, Anda hidup di negara dengan budaya Timur, kemudian tinggal di Indonesia, besar di lingkungan etnis Sunda dengan status ekonomi menengah, sekolah di sekolah swasta, hingga bekerja sebagai pegawai negeri. Poin-poin itu sudah menggambarkan kompleksitas konteks kelompok masyarakat sehingga pengamilan sampel di perusaahan a dan b misalnya bisa menghasilkan temuan riset yang berbeda. Sering kali kita terlalu abai atas apa yang kita lihat sehari-hari. Jika Anda cermat, Anda mungkin berpikir "oh iya yaa" atau "loh, kok ini tidak sesuai apa yang saya baca". Misalnya, berbagai literatur menjelaskan bahwa adanya ketimpangan kuasa dalam relasi interpersonal dapat menuntun pada tindakan agresif dan perundungan. Namun, pengalaman saya mengatakan bahwa relasi kuasa justru menuntun pada performa yang baik dalam relasi dalam beberapa konteks terentu. Oleh karena itu, para pengembang teori sering kali memberikan keterangan tambahan "bergantung pada konteks budaya".
Di bagian praktik, sering juga ditemukan bahwa edukator atau praktisi memaksakan hal yang sudah dirumuskan dalam pedoman atau buku panduan sebagai hal yang pasti benar dan relevan bagi siapa pun. Misalnya dalam diagnosis gangguan mental, sering kali masyarakat kelas bawah tidak mengenal apa-apa tentang kesehatan mental atau kita orang psikologi menyebutnya sebagai rendahnya literasi kesehatan mental. Namun, kesehatan mental yang dipahami oleh kelas sosial atas, menengah, dan bawah dapat berbeda. Tidak hanya dari pemahaman, tetapi pengelaman dan dinamikanya juga berbeda. Di kelas atas, boleh jadi identifikasi atas gejala-gejala seperti apa yang disebutkan dalam pedoman diagnosis memang benar adanya. Namun, di kelas bawah, apakah memang gangguan-gangguan tersebut ada? Kalau pun ada, apakah itu mengganggu aktivitas keseharian mereka di lingkungannya? Tentu saja belum tentu. Janganlah memaksakan dan merasa kita berhak menilai bahwa apa yang terjadi di kelas sosial lain sebagai hal yang abnormal. Betul memang abnormal bagi Anda, tapi bagi mereka bisa jadi normal-normal saja. Oleh karena itu, penting untuk melihat konteks norma dalam kelompok masyarakat dan berhati-hati menentukan apakah yang akan kita bawa benar-benar relevan, darurat, dan dibutuhkan. Hal ini berlaku tidak hanya dalam konteks gangguan mental, tetapi juga dalam fenomena sosial.
Kita perlu sadar bahwa apapun yang diproduksi oleh manusia tidak lepas dari sikap, kepentingan, dan ideologi yang dianut oleh produsennya, dalam hal ini penulis atau penyusun. Ilmu pengetahuan layaknya seperti instrumen atau alat. Dalam konteks kebijakan, ilmu pengetahuan sering kali digunakan oleh pihak yang lebih berkuasa untuk melegitimasi kepentingan kelompoknya. Hal ini sering terjadi di arena politik dan hukum. Dalam ilmu psikologi sendiri, misalnya pada penggunaan tes psikologi sering kali tidak sesuai dengan kelompok masyarakat hingga kemudian muncul penilaian bahwa orang di daerah tertentu digolongkan dengan kecerdasan yang rendah dan di daerah tertentu lebih tinggi. Kenapa bisa terjadi? Karena, tes tersebut disusun awalnya untuk kelompok masyarakat tertentu saja sehingga menjadi "kacau" ketika diterapkan secara serampangan pada kelompok masyarakat lainnya.
Hal ini juga terjadi pada pengembangan teori. Teori yang dikembangkan dalam masyarakat western, educated, industrialized, rich, dan democratic (WEIRD) tentu belum tentu relevan bagi masyarakat lain. Hal ini membuat suara dan dinamika kehidupan dari masyarakat lain, misalnya kelas bawah, menjadi terabaikan dan kita menjadi arogan bahwa kita-lah yang paling tau. Sebenarnya tidak, kita tidak tau apa-apa jika kita eksklusif dengan komunitas ilmiah kita sendiri. Pelibatan kelompok masyarakat lain--kelas bawah, kelompok marjinal, masyarakat adat, atau kelompok minoritas lainnya--dalam diskursus ilmiah menjadi hal yang krusial. Lagi pula yang biasa kita sebut sebagai kelas bawah bisa jadi lebih di atas kita dalam hal tertentu, pengelompokkan seperti itu juga sangat dipengaruhi pemikiran si penggagas konsep kelas-kelas tersebut.

Komentar
Posting Komentar