Psikologi Agama: Mindfulness Bagi Kebiasaan Sehari-Hari

Agama merupakan suatu pedoman dalam kehidupan manusia. Di dalamnya, tidak hanya terdapat aturan yang mengharuskan penganutnya menaatinya, tetapi terdapat juga petunjuk bagi manusia dalam bagaimana berdinamika dalam kehidupan, baik intrapersonal maupun interpersonal. Selain itu, agama juga menuntun manusia dalam bagaimana berkomunikasi denga Tuhan. Misalnya, dalam Islam, terdapat dua konsep dalam berhubungan, yakni hablumminannas dan hablumminallah. Hablumminannas secara umum adalah bagaimana seseorang menjalin hubungan yang baik dengan manusia lainnya. Tidak hanya baik, hubungan yang dibangun perlu memiliki kualitas. Manfaatnya tentu saja banyak. Jika kita menghubungkan hal ini pada konsep dalam Psikologi Sosial, kita dapat menilik pada teori social exchage, yakni ketika hubungan antar individu disertai timbal balik yang positif sehingga kedua pihak sama-sama mendapatkan manfaat dalam hubungan tersebut. Kemudian, Hablumminallah adalah hubungan antara manusia dengan Tuhan. Hal tersebut dapat tercermin dari bagaimana manusia menaati perintah Tuhan dan berkomunikasi dengan Tuhan. Komunikasi manusia dengan Tuhan merupakan tingkatan yang paling tinggi karena memerlukan fokus dan kesungguhan. Selain itu, berkomunikasi dengan Tuhan memerlukan aspek batin dari manusia. Komunikasi tersebut dikategorikan sebagai komunikasi I-Thou (Bryden, 2016). 

Terdapat pula kondisi ketika manusia mencoba untuk fokus dan tidak memikirkan apa pun dalam melakukan sesuatu, terutama ibadah. Dalam Islam, hal tersebut disebut sebagai khusyuk. Seorang Muslim selalu ditanamkan untuk khusyuk dalam beribadah karena hal tersebut dapat menambah ketenangan hati di samping imbalan pahala yang dijanjikan. Dalam ilmu psikologi, hal tersebut serupa dengan mindfulness, yakni sebuah metode yang mengharuskan individu untuk fokus pada saat ini dan tidak memikirkan hal lain apa pun dalam pikirannya (here and now). Khusyuk biasanya lebih ditekankan bagi para Muslim ketika sedang melakukan ibadah seperti Salat dan Zikir. Ketika dalam keadaan khusyuk, seseorang akan dapat merasakan nikmatnya beribadah karena pikirannya tidak diganggu oleh hal lain kecuali Tuhan. Hal tersebutlah yang dapat membuat seseorang lebih damai hatinya, bahkan hingga meneteskan air mata karena sangat menghayati ibadahnya.

Selain Islam, agama lain seperti Kristen secara umum juga memiliki konsep seperti demikian. Dalam Kristen, konsep tersebut berkenaan dengan bagaimana individu selalu sadar terhadap apa yang ia lakukan saat itu, apakah perbuatannya sesuai dengan keinginan Tuhan atau sesuai dengan Alkitab. Dengan mindful, individu diharapkan akan terhindar dari perbuatan tercela karena ia terus sadar apa yang ia lakukan serta tetap mengingat Tuhan dan Alkitab. Dari sekian banyak agama dan kepercayaan, salah satu agama yang menurut penulis paling erat dengan  mindfulness adalah Buddhis. Mindfulness dalam Buddhis juga mengenal konsep meditasi yang lebih kental, meskipun terdapat juga konsep yang serupa dengan mindful pada Kristen, yakni selalu sadar terhadap apa yang terjadi dari satu momen ke momen lainnya. Hal tersebut dapat membuat manusia sadar apa yang ia lakukan, apakah merupakan suatu kebajikan atau kebatilan. Selain itu, mindfulness dari konsep Buddhis juga merupakan landasan dari konsep mindfulness dalam ilmu psikologi. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk membahas mindfulness dari perspektif Buddhis yang juga pemaparannya diharapkan dapat diaplikasikan. 

Gambar diambil dari mindful.org


Mindfulness dalam Perspektif Buddhis

Ajaran Buddhis pertama kali muncul sekitar 2,500 tahun lalu di daerah India. Tokoh yang memprakarsai ajaran ini ialah Siddharta Gautama yang kemudian dikenal sebagai "Sang Buddha" yang memiliki arti "Yang Membangun". Sang Buddha percaya bahwa manusia dapat mendapatkan jalannya untuk mencapai kebebasan yang sebenarnya dari penderitaan. Mindfulness-lah yang merupakan kunci dari jalan tersebut (Kang & Whittingham, 2010). Secara umum, konsep mindfulness  dalam Buddhis memiliki beberapa kemiripan dengan konsep pada agama lainnya. Secara khusus, definisi mindfulness dalam ajaran Buddhis sangat berkaitan erat dengan ingatan. Selain itu, mindfulness ada ajaran Buddhis juga sangat menekankan pada kesadaran sebagaimana konsep mindfulness secara umum. Lebih spesifiknya lagi, Buddhis mengajarkan bahwa manusia perlu sadar terhadap perubahan yang ada. Hal tersebut diperlukan karena kehidupan bersifat dinamis. Kehidupan selalu bergerak dan pasti terdapat perubahan. Manusia perlu menyadari hal tersebut supaya tidak tertinggal dari manusia lainnya serta tidak terlelap oleh zona nyaman atau kesedihan. Dengan kesadaran tersebut manusia dapat mengetahui dan peka terhadap apa yang terjadi sehingga ia dapat menentukan tindakan yang tepat untuk selanjutnya. Kemudian, perubahan yang terjadi secara terus-menerus tersebut membuat manusia merasa gelisah. Hal tersebut wajar sebagai wujud kewaspadaan dan kesadaran manusia bahwa ia perlu mengantisipasi hal yang akan terjadi berikutnya. Namun, kegelisahan tersebut dapat berdampak buruk jika berlebihan. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan. 

Jika ditilik dari teori Personology dari Murray, hal ini dapat digambarkan bahwa kegelisahan merupakan tegangan atau tension yang perlu diseimbangkan. Tegangan ini berfungsi sebagai alarm yang menandakan bahwa manusia perlu berbuat sesuatu untuk memenuhi kebutuhannya. Sebagaimana mestinya, alarm perlu dipadamkan. Kemudian, alarm atau tegangan tersebut dipadamkan oleh manusia dengan bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan untuk mencapai keseimbangan. Dalam ajaran Buddhis, keseimbangan tersebut dapat digapai melalui mindfulness itu sendiri. Dengan itu, manusia dapat sadar dan peka terhadap perubahan terutama yang mengancam sehingga batinnya selalu merasa tenang dan terhindar dari kegelisahan

Melakukan Mindfulness Berdasarkan Perspektif Buddhis

Lini masa manusia terbagi dalam tiga dimensi waktu, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Terkadang, manusia terjebak pada masa lalu. Oleh karena itu, mindfulness berfungsi untuk menyesuaikannya supaya manusia dapat fokus pada masa kini. Kegelisahan yang dialami oleh manusia sering kali terjadi karena batin dan pikiran manusia masih terhantui oleh apa yang ia lakukan pada masa lalu. Kemudian, ia tidak dapat fokus pada masa kini dan tidak dapat mempersiapkan masa depannya. Masa lalu dilibatkan bukan untuk diratapi, tetapi sebagai bahan evaluasi untuk menatap dan melakukan hal yang lebik baik pada masa kini dan masa depan. Pada dimensi masa lalu, manusia dituntut untuk melakukan napak tilas secara sadar apa yang telah dan belum dilakukan serta kesalahan apa yang perlu diperbaiki. Apa yang dirasa masih belum dilakukan maka perlu dilakukan dan apa yang dirasa sudah dilakukan dengan baik maka perlu ditingkatkan. 

Aspek here and now perlu juga diterapkan. Ketika kita melakukan sesuatu, terkadang pikiran kita kabur (memikirkan hal lain di luar apa yang kita lakukan). Misalnya, ketika sedang ada di kelas mengikuti perkuliahan, tidak jarang individu malah memikirkan hal lain, seperti nanti siang ingin makan apa atau nanti setelah kuliah ingin pergi ke mana. Tentu saja, perkuliahan yang saat itu sedang berlangsung yang seharusnya diutamakan terlebih dahulu malah terabaikan sehingga tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk mempertahankan kondisi here and now dengan melakukan refleksi dan menanyakan kepada diri sendiri sebenarnya saat ini apa yang sedang dilakukan dan apa alasannya. Dengan itu, individu dapat mengetahui substansi dan nilai dari apa yang ia sedang lakukan saat itu sehingga ia sadar bahwa hal itulah yang saat ini dan sekarang penting untuk diselesaikan. Selain itu, mindfulness juga akan lebih efektif lagi jika dilengkapi oleh meditasi. Mindfulness merupakan skema inti dari meditasi dalam ajaran Buddhis (Kang & Whittingham, 2010). Meditasi ini bukanlah sebuah ritual, melainkan sebuah latihan kesadaran yang dapat dilakukan dimana pun dalam waktu yang tidak terlalu lama, misal sepuluh atau lima belas menit. Meditasi sudah menjamur dan populer bagi masyarakat umum. Jika dilakukan secara rutin, individu akan lebih memiliki kesadaran yang tinggi. Selain itu, Kang & Whittingham (2010) juga menyebutkan beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menerapkan mindfulness berdasarkan ajaran Buddhis:

  • Individu diharuskan fokus dan sadar terhadap suatu momen ke momen lainnya

  • Mengingat  dan melakukan atensi pada objek yang familiar

  • Proses mengingat kembali secara sistematis dan berurutan atas momen yang terjadi

  • Kewaspadaan dan melakukan introspeksi atau evaluasi terhadap apa yang terjadi

  • Dapat mengarahkan atensi dengan baik yang dibarengi dengan pengetahuan atas sumber pengalaman atau momen yang terjadi

  • Kesadaran yang tidak terbagi, maksudnya adalah individu hanya sadar terhadar suatu momen dan tidak memkirkan hal lain yang di luar kontrol

Tentu saja, tidak mudah dalam melakukan hal-hal tersebut. Individu dituntut untuk fokus dan menghidari segala distraksi yang ada. Oleh karena itu, latihan mindfulness disarankan dilakukan ditempat yang kondusif. Perlahan, individu akan terbiasa menghindari distraksi jika latihan dilakukan secara rutin.

Gambar diambil dari Merdeka.com


Pengintegrasian Konsep Agama dengan Ilmiah

Buddhis dan ilmu psikologi, dalam hal ini mindfulness, telah memiliki sinergi di antara keduanya. Integrasi antara Buddhis dan ilmu psikologi telah menciptakan landasan untuk kesehatan mental bagi manusia. Definisi mindfulness dalam perspektif Buddhis erat pula kaitannya dengan ingatan atau memori. Dalam artian, individu yang menerapkan mindfulness akan dapat mengumpulkan dan meruntutkan ingatannya dengan lebih baik (Wallace, 2006; Kang & Whittingham, 2010). Pelatihan mindfulness dapat meningkatkan memori kerja pada situasi distress. Artinya, seseorang dapat melakukan suatu hal dengan baik meskipun ia dalam kondisi tertekan. Dengan mindfulness, seseorang juga dapat lebih spesifik dalam mengingat pengalaman autobiografinya (Heeren dkk., 2009).

Mindfulness dari ajaran Buddhis juga menjadi salah satu landasan yang kemudian diintegrasikan dengan pendekatan ilmiah dari terapi mindfulness yang ada pada era kontemporer. Tokoh yang berpengaruh besar dalam hal ini ialah Jon Kabat-Zinn (Hidayanti dalam Subanti, 2019). Kabat-Zinn membawa konsep mindfulness dari budaya Timur yang kemudian berkembang menjadi psikoterapi yang sudah teruji ilmiah. Konsep yang ia bawa tersebut akhirnya menjadi landasan bagi beberapa psikoterapi untuk penanganan klinis, misalnya Mindfulness Based Stress Reduction (MBSR) dan Mindfulness Based Cognitive Therapy (MBCT). Grossman dkk (2004) menyatakan bahwa MBSR efektif untuk permasalahan klinis maupun nonklinis, seperti nyeri, kanker, penyakit jantung, depresi, dan kecemasan. Kemudian, individu yang secara konsisten menerapkan mindfulness lebih memiliki kemampuan untuk mengatasi distress sehari-hari. Oleh karena itu, individu terutama yang memiliki permasalahan klinis maupun nonklinis* sangat disarankan untuk menerapkan mindfulness (Kang & Whittingham, 2010).

*Singkatnya, gangguan klinis merupakan suatu penyakit yang sudah ditegakkan diagnosisnya dan sifatnya menetap. Sedangkan, non-klinis lebih kepada gejala yang relatif hanya muncul sementara dan tidak parah.

Selain Kabat-Zinn, tokoh lain yang berpengaruh bagi perkembangan psikoterapi yang berlandaskan mindfulness ialah Jack Kornfield, Sharon Salzberg, dan Joseph Goldstein. Mereka mencetuskan Insight Meditation Society (IMS). Kemudian, mereka juga mempopulerkan pengkolaborasian antara meditation mindfulness dengan MBSR bagi kasus klinis maupun non-klinis (Hidayanti dalam Subandi, 2019). Saat ini, psikoterapi berbasis mindfulness bahkan menjadi salah satu yang paling banyak digunakan di Amerika Serikat di samping terapi kognitif-perilaku. Hal ini menunjukkan bahwa mindfulness cukup efektif sebagai pengangan. Germer (2005) juga menyatakan bahwa ke depannya mindfulness dapat menjadi psikoterapi yang berdiri sendiri.

Konklusi


Terdapat perdebatan yang membahas bahwa ilmu agama dan sains tidak dapat terintegrasikan. Pembahasan di atas dan perkembangan ilmu pengetahuan merupakan salah satu bukti bahwa kedua hal tersebut dapat bersatu, salah satunya dalam hal mindfulness. Selain menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari, ilmu agama juga dapat menjadi salah satu penanganan bagi masalah klinis dengan inovasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Pembahasan di atas penulis rasa baik untuk diterapkan oleh penganut agama apa pun dan juga menunjukkan bahwa setiap agama memiliki perspektif masing-masing yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.


Credits

Windy Susanti

Referensi


Baer, R. A., Smith, G. T., Lykins, E., Button, D., Krietemeyer, J., Sauer, S., et al. (2008). Construct validity of the five facet mindfulness questionnaire in meditating and nonmeditating samples. Assessment, 15, 329–342.

Bryden, C. (2016). A spiritual journey into the I-Thou relationship: A personal reflection of living with demensia. Journal of Religion, Spirituality and Aging, 28 (1-2), 7-14

Germer, C. K., Siegel, R. D., & Fulton, P. R. (2005). Mindfulness and psychotherapy. New York, NY US: Guilford Press

Grossman, P., Niemann, L., Schmidt, S., & Walach, H. (2004). Mindfulness-based stress reduction and health benefits a metaanalysis. Journal of Psychosomatic Research, 57, 35–43. 

Heeren, A., Van Broeck, N., & Philippot, P. (2009). The effects of mindfulness on executive processes and autobiographical memory specificity. Behaviour Research and Therapy, 48, 403–409

Hidayanti, R. C. (2019). Mindfulness: Pendekatan ilmiah tradisi Buddhisme. Dalam M. A. Subandi, Psikologi & budaya (kajian berbagai bidang) (pp. 505-520). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Jha, A. P., Stanley, E. A., Kiyonaga, A., Wong, L., & Gelfand, L. (2010). Examining the protective effects of mindfulness training on working memory capacity and affective experience. Emotion, 10(1), 54–64

Kang, C., & Whittingham, K. (2010). Mindfulness: A dialogue between Buddhism and Clinical Psychology. Mindfulness, 1(3), 161–173. https://doi.org/10.1007/s12671-010-0018-1


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulisan untuk Membela Para Introvert

Menilik Stereotip pada K-popers dan Penyuka Jejepangan: Bagaimana Bisa Terjadi?

Sekelebat Pikiran: Mempertanyakan Posisionalitas Ilmu Pengetahuan bagi Masyarakat