Emosi sebagai Tuan, Manusia sebagai Budak


"Putus hubungan dahulu, menyesal kemudian". Ini adalah contoh ketika emosi dapat memengaruhi pengambilan keputusan seseorang. Sangat banyak contoh lainnya ketika kita seringkali menyesali keputusan yang kita ambil karena proses pengambilan keputusan dilandaskan pada emosi, bukan rasional atau akal sehat. Saya pilih contoh tadi karena banyak saya temui kasus putus hubungan karena pengambilan keputusan yang dilakukan saat seseorang sedang dikuasai emosi. Baik kita sadari atau tidak, banyak masalah yang sebenarnya bisa kita selesaikan dengan cara berdiskusi, tetapi justru masalah tersebut tidak selesai, karena apa? karena ego dan gengsi yang jalannya dibukakan oleh emosi.

Tidak hanya emosi negatif (contoh: marah, jijik, atau sedih), emosi positif (contoh: senang) juga dapat membuat manusia tidak waras dan rentan bias. Hal ini banyak terjadi pada manusia yang sedang jatuh cinta. Manusia yang sedang jatuh cinta tidak pernah waras dan akan selalu bias. Secara tidak kita sadari, istilah "cinta itu buta" memang memiliki landasan logis dan ilmiah. Manusia akan selalu melihat hal positif dari orang yang ia cintai, tanpa memperdulikan sisi negatif orang tersebut. Ia akan meng-iya-kan semua hal yang diminta oleh orang yang ia cintai, tanpa memikirkan konsekuensi negatif berikutnya sehingga ia seringkali menyesal belakangan. Namun, bukan berarti kita tidak boleh jatuh cinta. Jangan lupa, manusia juga punya akal dan logika. Meskipun benar apa yang dikatakan oleh Jonathan Haidt bahwa rasional adalah budak dari emosi, bukan berarti manusia harus pasrah diperbudak terus-menerus oleh emosi. 

Manusia yang dibutakan oleh emosi hanya akan mengikuti apa yang "diperintahkan" oleh emosi tersebut. Misal dalam konteks jatuh cinta, manusia akan diperbudak untuk hanya percaya dan menerima apa yang sejalan atau mendukung emosinya. Misalnya, manusia hanya akan percaya dan menerima bahwa orang yang ia cintai adalah orang yang baik dan dapat dipercaya demi memuaskan emosi positif yang sedang ia alami saat jatuh cinta. Kenapa kemudian manusia menjadi bias seperti itu? Manusia hanya sekadar tidak ingin meruntuhkan dan melukai emosi positif (dalam hal ini rasa mencintai). 

Sekali lagi, bukan berarti kita tidak boleh jatuh cinta, melainkan penting bagi kita untuk tidak memberi makan ego rasa cinta yang dimiliki terus-menerus. Sebab, luapan rasa cinta (katakanlah kasmaran) hanya akan ada di awal, sisanya adalah kenyamanan dan ketersambungan dalam obrolan antar-manusia. Maka, omong kosong bagi orang yang menjadikan hilangnya spark (percikan) sebagai alasan berakhirnya hubungan. Kalau itu jadi alasan, mana mungkin ada hubungan yang bisa bertahan lama. Artinya, ia masih belum bisa memberontak terhadap emosi sebagai "tuannya".

Ya sebenarnya tulisan ini utamanya bukan ingin membahas tentang jatuh cintanya, melainkan pada emosi yang bisa memperbudak manusia dengan membelenggu rasionalitas. Namun, saya rasa itu contoh yang paling sederhana dan relevan bagi banyak orang. Ya supaya tidak terlalu kelihatan cinta-cintaan, saya akan memberikan contoh lain yang lebih "berat". Pada pemilihan presiden lalu, kita sering menemukan alasan orang-orang memilih salah satu capres, yakni karena kasihan atau "gemoy" (ya saya gak nyebut yang mana sih tapi tau lah ya). Ini adalah contoh kasus nyata bahwa emosi seringkali memperbudak manusia, terutama manusia Indonesia. Saya rasa orang-orang Indonesia itu masih banyak yang "diperbudak" oleh emosi. Oleh karena itu juga, sangat sulit menerapkan cancel culture di Indonesia karena kita sangat mudah luluh dengan permainan emosional. Impikasinya, kita terlalu mudah memaafkan. Berapa banyak orang di Indonesia yang kini memegang peran penting dengan rekam jejak yang jelas-jelas tidak bermoral karena kita memaafkan mereka.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan bahwa emosi mulanya bersifat netral. Bahkan sebanarnya, emosi dapat mendorong manusia untuk melakukan aksi-aksi moral. Namun, kembali lagi, tidak ada di kehidupan ini yang semuanya serba positif. Manusia memiliki kendali maka peganglah kendali itu. Jangan biarkan emosi yang mengendalikan kita, justru kita sebagai diri yang harus mengedalikan emosi. Satu lagi, jangan pernah mengambil keputusan ketika Anda sedang dikuasai oleh emosi, terutama ketika keputusan tersebut menyangkut orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Paradoks Pendidikan Sarjana (Ilmu Psikologi)

Sekelebat Pikiran: Mempertanyakan Posisionalitas Ilmu Pengetahuan bagi Masyarakat